Kecil Itu Indah karya E.F.Schumacher

Posted: Desember 30, 2013 in Esai, Tugas Kampus
Tag:, , , , ,

KECIL ITU INDAH

E.F.Schumacher,1973.

Penerbit LP3ES, terjemahkan oleh S.Supomo.

Ideologi suatu bangsa turut serta mempengaruhi sistem ekonomi yang akan berlaku dalam wilayah kedaulatan. Begitu pula dengan Indonesia, yang saat ini menyatakan diri menganut sistem ekonomi pancasila. Terlepas dari filosofi yang terkandung didalamnya,suatu hal pasti bahwa setiap sistem ekonomi bertujuan untuk memberi kesejahteraan.

Indonesia dalam kategori negara berkembang , telah menghadapi berbagai pilihan-pilihan untuk menentukan pembangunan infrastruktur yang tentunya merata serta pengembangan teknologi tepat guna. Sejak era Soeharto dengan Program Repelita hingga Pemerintahan era Reformasi, berbagai proyek telah digelintirkan untuk percepatan pembangunan demi tatanan ekonomi yang lebih baik.

Dewasa ini disiplin ekonomi mengalami perkembangan. Ekonomi tadinya berupa filsafat pemikiran menjadi sebuah cabang keilmuan yang bersifat semi sains. Ilmu ekonomi telah sangat diperlukan dalam suatu negara yang berorientasi industri. Salah satu bentuk penerapannya adalah Pendapatan Nasional Bruto yang menggambarkan tingkat pertumbuhan dan hubungannya dengan tingkat keberhasilan pemerintah, inflasi dan tingkat pengangguran digambarkan secara kuantitatif.

Pada tahun 1973, buku berjudul ‘Small is Beautiful’ sebuah gagasan tentang Ilmu Ekonomi Yang Mementingkan Rakyat Kecil dikeluarkan oleh ekonom E.F.Schumacher . buku ini memuat begitu banyak kontra dengan sistem ekonomi yang dipopulerkan oleh Adam Smith beserta tokoh turunannya-John M. Keynes.

Buku ‘Kecil Itu Indah’ berisi 4 bab pemikiran Schumacher . secara garis besar Schumacher membahas tentang kearifan yang hilang akibat penerapan sistem ekonomi kapitalis; Eksplorasi sumber daya alam berlebihan akibat mengutamakan perkembangan teknologi secara cepat; sistem pendidikan yang tak bersinggungan lagi dengan unsur metafisika. Manusia, alam dan teknologi adalah tiga unsur dalam dinamika berfikirnya dituangkan dalam buku ini. Beliau memandang adanya kekeliruan-kekeliruan yang kenyataannya telah berlangsung hingga beberapa generasi.

Pada awal ulasan buku ini, mengutip sepatah kata Schumacher dalam buku ‘Kecil Itu Indah’ ;

“barangkali sia-sia mencari bukti sejarah bahwa si kaya selalu bersifat lebih damai daripada si melarat, tetapi dapat pula dikemukakan bahwa si kaya selalu merasa terancam oleh si miskin, bahwa keagresifan mereka berasal dari rasa takut”

Schumacher tidaklah sedang melontarkan kalimat sentimen kepada si kaya, inilah gambaran produk-produk pemikiran kapitalis dalam Dunia Modern, dimana antara modal dan produktivitas terselip ‘kerakusan’-sifat tidak puas dan ingin menguasai lebih dan lebih lagi dalam diri pribadi masing-masing.

Schumacher memaparkan tulisan dengan gaya argumentative. Dia membeberkan fakta-fakta bahwa eksplorasi berlebihan terhadap sumber daya alam terbatas ,seperti bahan bakar fosil oleh pelaku industri telah membawa masalah besar bagi masyarakat dan lingkungan hidup. Jumlah bahan bakar fosil bumi yang semakin sedikit membuat suatu negara ingin mencari (baca:menguasai) sumber daya di belahan dunia lain,tentu saja berpeluang menciptakan masalah hubungan antara dua negara atau lebih.

Schumacher membantah keyakinan para ahli ekonomi yang menyatakan bahwa ‘masalah produksi’ telah terpecahkan. Paradigma tersebut mengakibatkan meningkatnya konsumsi tanpa memperhatikan sumber daya yang ada.keyakinan itu ada karena kita belum dapat membedakan modal dan pendapatan. Sumber daya alam jika dijadikan ‘pendapatan’,tentu saja ini membuat manusia seenaknya mengeksplorasi Sumber daya alam terbatas untuk dijadikan alat produksi. Andaikata sumber daya dianggap sebagai ‘modal’,maka akan timbul sikap hemat dan lebih hati-hati menggunakannya.

Kekeliruan akan terlihat jika kita sadari bahwa  kita sedang berhadapan dengan modal, bukan dengan pendapatan, bahwa bahan bakar fosil misalnya tidak dibuat oleh manusia, dan tidak bisa dipulihkan kembali. Walaupun muncul penelitian tentang energi alternative yang dikembangkan oleh beberapa ahli,seperti tenaga nuklir,namun hal ini justru menimbulkan masalah baru . tenaga nuklir masih beresiko tinggi dibanding manfaat yang dapat diberikan.

Hingga pada keyakinan modern tentang apa itu ‘perdamaian dan kelestarian’ masih saja keliru. Sulit menaruh keyakinan kepada generasi sekarang untuk memahami dengan normatif tentang dua hal tersebut. Keyakinan modern umumnya berpendapat bahwa perdamaian adalah kemakmuran yang merata di seluruh dunia. Namun kenyataannya kemakmuran itu hanya dapat dicapai dengan dasar filsafat materialistik. Seperti pendapat Keynes “bahwa yang baik itu buruk dan yang buruk itu baik-karena yang buruk berguna dan yang baik tidak berguna.sikap serakah , riba dan sikap hati-hati masih harus tetap menjadi dewa-dewa kita untuk jangka waktu yang cukup lama”. Hal ini telah jelas mengesampingkan etika. Apakah dikatakan perdamaian dan kelestarian itu benar-tanpa etika ?.

Schumacher menilai perdamaian itu tidak dapat didirikan di atas landasan kemakmuran merata. Kemakmuran seperti itu hanya bisa dicapai dengan memupuk nafsu-nafsu serakah dan iri hati. kemakmuran suatu bangsa tidak serta merta dilihat dari angka Produk Nasional Kotor yang menutupinya. Ada hal buruk terjadi pada sekolompok masyarakat kecil umumnya tidak dapat dipaparkan oleh angka-angka tersebut. Buruknya pemikiran ekonomi Keynes dapat merusak tatanan hidup baik dari segi material dan non material.

Menurut Schumacher harus ada perubahan arah bagi ilmu dan teknologi dengan memasukkan kearifan ke dalam strukturnya. Perdamaian dan Kelestarian itu ada karena kita kembali pada kearifan. Kearifan memungkinkan kita melihat betapa meruginya manusia yang mementingkan tujuan material tanpa memerhatikan tujuan spiritual.sebagai contoh kehidupan ekonomi yang baik dari ‘ilmu ekonomi Buddha’ yang menjunjung tujuan spiritual ,hidup selaras dengan alam,kesederhanaan tanpa kekerasan dalam setiap keputusan-keputusan dan tindakan ekonomi.

Apa faktor yang melatari manusia hingga sejauh ini mengabaikan –baik disadari atau pun tidak disadari- kelestarian lingkungan? Menurut Schumacher ini ada dalam sistem pendidikan. Sistem pendidikan saat ini (era tahun 1970-an) mengabaikan kesadaran metafisik. Ilmu sains dan humanistic diajarkan tanpa memahami landas pikirannya,tanpa mengetahui arti dan kedudukan ilmu tersebut dalam alam pikiran manusia. ilmu dan teknis menghasilkan know-how (keterampilan) tetapi ini tidak berarti jika tanpa penyebaran nilai-nilai dalam pendidikan.Begitu pula dengan perkembangan ilmu ekonomi yang diajarkan tanpa pemahaman mengenai pandangan perihal sifat manusia.hal ini yang menyebabkan timbulnya kerakusan dan sifat merusak alam demi memenuhi hasrat konsumsi.

Selanjutnya schumacher memberi gagasan berupa solusi bahwa masalah sosial dan ekonomi menghendaki pengembangan teknologi madya. Teknologi madya adalah teknologi menengah bersifat sederhana dan  ramah lingkungan yang mampu dijalankan oleh kaum miskin. Selain itu, Desa-desa juga diberikan bantuan baik secara kualitatif dan kuantitatif.

Di akhir buku Schumacher menuliskan bahwa hanya dengan landasan jenis kebijaksanaan yang berjiwa besar kita dapat mencapai justicia (keadilan) , fortitudo (ketabahan hati ) dan temperatia , yang berarti mengetahui bahwa orang harus berhenti mengejar kepentingan pribadi (egosentris) jika sudah cukup. keadilan berkaitan dengan kebenaran, ketabahan hati dengan kebaikan. Untuk melaksanakan hal itu kita tidak dapat mencari bimbingan dari ilmu dan teknologi, namun masih dapat ditemukan dalam ajaran-ajaran arif tradisional umat manusia.

Sebagai suatu apresiasi penulis,buku ‘Small is Beautiful’ dalam terjemahan indonesia ‘Kecil itu Indah’ karya E.F.Schumacher ini mengajak pembaca untuk merefleksi kembali hasil pemikiran-pemikiran sistem ekonomi kapitalis. Sangat sulit memang memasukkan nilai-nilai spiritual dalam lingkup ilmu ekonomi yang cenderung melihat variabel-variabel kuantitatif. Namun , kita tentu tidak melupakan ajaran-ajaran islam -saat ini berkembang khazanah ilmunya di bidang ekonomi- menjadi pedoman hidup kita. Allah Swt telah mencukupkan dan menyediakan sumber daya untuk dikelola manusia. Tetapi satu hal, kita diperintahkan sebagai khalifah di muka bumi,untuk berbuat kebajikan terhadap sesama ciptaan, bukanlah untuk berbuat kerusakan.

Akhir kata,kesederhanaan dan kearifan memang haruslah ada dalam setiap cara berfikir manusia dalam memenuhi hasrat pribadinya. Meskipun hanya perkembangan-perkembangan kecil yang kita lakukan,jauh lebih damai dan menenangkan jika kita merasakan ketentraman bersama . Dan memang, ” Kecil itu Indah” .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s